Istikharah Cintaku untuk DIA

  Dia, yah dia. Lelaki itu akan menikahiku 2 bulan lagi dan meyakini bahwa aku akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Namanya Dian, seseorang yang baru kukenal 3 bulan lalu. Kalau dilihat lihat sih, gak ada alasan aku menolaknya. Keluargaku suka dengannya, keluarganya pun demikian suka padaku. Pekerjaannya pun sudah mantap, agamanya pun lumayan bisa diandalkan. Kupanggil namanya Dia, karena cowok kok namanya Dian, itu pikirku. Aku mengenalnya dari sebuah ta’aruf keluarga, yang kupikir kenapa tidak dicoba saja.

      Malam itu HP ku berbunyi pesan SMS, setelah kulihat terkejutnya hatiku. Sang mantan Aris mengirim sebuah pesan. Didalam pesannya dia ingin bertemu denganku,untuk terakhir kali sebelum aku menikah. Darimana dia tahu aku akan menikah, yah mungkin dari teman2ku. Tidak heran Aris adalah temanku sejak kita masih memakai seragam putih biru sampai kuliah. Jadi, teman-temannya  juga teman2 ku. Awalnya buat apa aku menemuinya, toh empat bulan ini kita tidak berkomunikasi lagi, tetapi karena dia membawa atas nama “silaturahmi” akupun meng iya kan ajakannya.

 

“Indah, aku masih sayang sama kamu”

       Waduh, mati aku! Dia mengajak bertemu hanya ingin mengatakan hal ini. Aku pun mencoba tenang didepannya. Terus terang aku masih ada perasaan sayang pada Aris, kita sudah menjalin hubungan sejak SMP sampai setahun kemarin akhirnya kita memutuskan putus karena kita merasa emosi kita masih sama-sama labil. Aris orang yang seumuran denganku, kadang kita terlalu kekanak kanakan kalo menyelesaikan suatu masalah yang membuatku merasa BT tiap hari.

“Bukannya kamu sekarang dengan Rina, teman satu kos-kosan ku dulu”

“Omigot Ndah, aku minta maaf kalau aku pernah berpacaran dengan sahabatmu sendiri, tapi itu kulakukan karena aku merasa kehilanganmu dan ketika dia datang menenangkanku aku merasa nyaman”

        Alesaaaan!dasar cowok, alasannya ada aja. Akupun menegaskan kepada Aris, kalau sikapnya ini tidak seharusnya dia utarakan padaku, karena aku akan menikah. Tapi….kenapa aku masih merasa terbuai dengan kenangan2ku bersama Aris ketika kita bercanda-bercanda kecil lagi. Arispun menantangku….

“Selama janur kuning belum melengkung, pikirkan baik-baik Ndah. Kamu baru mengenal calonmu itu 3 bulan lalu, dan kamu jarang bertemu dengannya karena dia tidak satu kota denganmu”

         Sejak pertemuan itu, aku dan Aris tanpa kusadari sering SMS an dan telfon2 an lagi. Bahkan diam2 aku selalu meng iyakan ajakan nya untuk sekedar jalan. Sudah 2 minggu aku jalani ini dengan Aris secara diam diam. Ya ALLAH, apa-apa an aku ini, hatiku terguncang. Aku dan Dian pun sering berselisih karena Dian tinggal di kota lain dan kita jarang sekali bertemu. Posisi itupun terganti dengan adanya Aris didekatku.Hingga suatu saat Dia curiga dan memergok i ku berjalan di mall dengan Aris

“Jadi ini yang selama ini membuatmu berubah Ndah”

Mampusssssss gue. Mataku pun terbelalak, tetapi dengan cepat Aris menjawab pertanyaan Dian

“Owh, Dian ya?kenalkan aku Aris teman sekaligus mantan nya Indah. Yang masih modal kuliah tetapi bisa mengerti Indah sepenuhnya”

Waduh!gawat, si Aris yang suka asal tembak itupun berbicara hal bodoh didepan Dian. Tetapi karena Dian orang yang dewasa dan bijaksana, dia hanya tersenyum dan berkata….

“Indah, kutunggu kamu dirumah kita bicarakan dirumah. Btw Ris, nice to meet U….”

         Ketika dirumahpun kulihat Dian duduk dengan gelisah, akupun mendatanginya dengan penuh rasa kekhawatiran.

“Jangan kuwatir Ndah, aku tidak bicarakan kejadian tadi dengan ibu atau keluargamu, ini masalah kita. Indah, kamu masih muda, 22 tahun sedang aku 28 tahun. Aku serius Ndah denganmu, kamu sampai kapan bertingkah dan bertindak seperti anak2?kita mau menikah indah”

Akupun terdiam, dan mengungkapkan hatiku bahwa ketika aku berjalan dengan Aris aku merasa senang, riang, bahagia. Sedang kalau aku berjalan dengan Dian aku merasa harus bertingkah seperti wanita dewasa yang sejatinya itu bukanlah diriku. Dian pun dengan bijak meyakinkan hatiku bahwa dia menerimaku apa adanya dan jangan aku merubah pribadiku. Dia mengatakan, dua orang diciptakan berbeda dan disatukan dengan pernikahan untuk membuat perbedaan itu menjadi keindahan. Akupun terdiam dan Dia pun mengatakan …

“Indah, istikharahlah….minta petunjuk ALLAH. Apapun keputusanmu, aku terima. Lelaki meminta, wanita memutuskan. Aku tunggu keputusanmu 10 hari dari sekarang”

         Setelah kejadian itu, akupun menceritakan kepada Aris. Arispun mengatakan hal yang sama, aku disuruhnya istikharah. Akhirnya aku memutuskan tidak menghubungi mereka berdua sama sekali. Aku gunakan malam-malam panjangku untuk beristikharah kepada ALLAH.  Sial!!sial!! berhari hari aku tidak mendapatkan jawabannya, tidak ada satu mimpipun terbesit dalam tidurku.

         Ini sudah 10 hari, Dian dan Aris tidak menghubungiku sama sekali. Wah, dapat bonus nih pikirku. Disaat lamunanku terbang, ibuku kupun mendatangiku…

“Indah, ibu tahu apa yang kamu alami nduk. Jangan tanya dari siapa, Ibu sendiri yang melihat tingkah2mu yang aneh itu. Kamu pikir Ibumu ini ndak tahu kamu selama ini kemana dan ngapain aja. Nduk, istikharah malam2 meminta ridho ALLAH itu baik, tapi alangkah baiknya jika kamu tidak menuntut ALLAH untuk memaksakan jawabanmu. Indah…., istikharah harus diselingi informasi yang akurat, liat bebet, bobot, bibit nya, bicarakan rembug an dengan keluarga Indah, mantapkan hati indah sendiri. Karena jawaban itu bukan dari sekedar mimpi, itu pemahaman yang salah. Dari hati Ndah, dari kemantapan hati Indah”

Dalam kaitan dengan istikharah, maka pilihan pribadi mencoba disucikan. kemantapan yang muncul akan diberikan oleh Allah swt. Pilihlah dengan yakin dan bila sudah yakin, bertawakkallah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah : ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah….” (AQ S Ali Imran 159).

         Hari extra yang diberikan kedua lelaki itupun akhirnya datang pada akhir keputusanku. Dan akupun memutuskan………

      Tujuh kemudian, aku mendapat undangan pernikahan tertulis nama Dian Syahputra dengan Anisa Hendratmo. Dua bulan setelahnya ku mendengar Aris training di sebuah perusahaan asing di Singapore dibagian PR. Aris yang pandai bicara dan menghibur itupun meraih impian dari kekuatan nya membuat orang selalu tertarik mendengarnya.And guess what? dia balikan lg dgn Rina.

Dan aku?aku menunggu DIA, DIA yah DIA yang ALLAH akan kirimkan padaku….

Ternyata kemantapanku bukan untuk memilih mereka karena keadaan, tetapi menunggu yang aku yakini dari hati. Bahwa DIA akan memilihku dan aku memang memilihnya…….

—————————————————————————————————————————————————–

*Jangan memaksakan suatu keputusan karena keadaan, tapi karena keyakinan dari hati. Jangan mencintai seseorg karena keadaan tetapi dari hati dan satu lagi, jangan membohongi perasaanmu sendiri, jika memang masih bisa perjuangkan! tp jika memang hatimu tidak merasakan apapun putuskanlah…..

(Cerita Cinta Islamiku)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: