Awan kelam di Kerry Park (10-10-2010)

Siang itu aku dikejutkan dgn sapaan temanku dari Malaysia yang menyapaku.

“Mel, hey do u know there is a new indonesian student here?i just met him in the hall with his sister, he said he wanna meet with other indonesian students. Kau tau sendiri I look like Indonesian, so dia sangka aku dr indonesia”

Akupun mengucap terimakasih dan berpikir mungkin ak akan ketemu juga nantinya. Seperti biasa, Deni sahabatku mengajakku ke cafetaria. Disana aku sibuk browsing internet dan Deni menelfon istrinya. Ketika Deni berbicara panjang lebar dengan istrinya di telfon, tb2 ada seorang cowok ber baju polo, celana pendek, sepatu converse, berambut spike menyapa kami dengan PD nya.

“Assalamualaikum!, waah ni gk salah ni kayaknya kalian ni orang Indo. Kenalin nama gue Awan, gue disini anterin adik gue baru masuk college, kalian anak college sini juga?”

Si Deni hanya memberi tanda senyum karena dy masih berbicara dengan istrinya, mau tidak mau akupun yang menjawab sapaan si Awan.

“Waalaikumsalam, hi Awan owh jadi kamu yang anak Indo yang dicritakan temanku td. Eh kenalin namaku Melati, ini Deni.” Sembari Deni tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.

“Hehe, maklum dia lagi worry soalnya baru punya baby jd telfon istrinya tiap waktu”

Sweet! Gue duduk sini ya?Btw, lo blm jawab, lo anak sini juga?”

“Gue udah lulus Master ambil Business, si Deni juga sudah. Rencana 3 minggu lagi aku bakal balik Indo. Kita sering nongkrong disini soalnya ini college kita dulu, dan jaraknya lbh deket dr apartemen ku dan Deni”

“Hmm, kalo gue masih ambil S1 disini adik gue baru dateng dr indo dan bakal kuliah disini.Wow, lu pasti punya bisnis di Indo nih kok ambil Bisnis jauh-jauh ke Amrik”

Deni pun langsung menjawab pertanyaannya”Melati ni ceritanya anak satu-satunya dikeluarga Wan,dy tuh tumpuan bisnis ayahnya,eh apalagi ssttt….dia ni anak pejabat men, jadi punya nama, Bokapnya jg anggota DPR”

Arch!!si Deni selalu aja menggoda dan ember, tetapi sejak pertemuan dan pembicaraan yang penuh tawa di cafetaria itu membuat kita sering sekali jalan bersama dan bertemu. Si Awan ternyata anaknya gokil habis dan kocak. Semangat muda dan usilnya selalu membuatku dan Deni tertawa terpingkal-pingkal. Deni 5 tahun lebih muda dari aku, tetapi dia kakak yang dewasa dan sayang sekali dengan adik nya. Aku selalu senang melihat kedekatan Awan dan adiknya yang selalu membuat ku tersenyum karena keakraban mereka dan keusilan Awan. Awan juga selalu perhatian padaku dan Deni, dan yang bikin ak kesel dia selalu GR in aku sehingga Deni gak henti-hentinya menggodaku.

Suatu hari Awan mengajakku ke Kerry Park di Queen Ann Seattle. Tak biasanya si Deni menolak ajakan kita, dan lebih sialnya si Awan bilang aku disuruh berangkat dulu dan akan menemuiku disana pukul 9  pagi. Akupun menunggu, menunggu dan menunggu. Dan alhasil sudah hampir satu jam aku merasa dipermainkan. Kalau si Awan dlm waktu 15 menit tidak muncul juga, bakal kutinggal dia!Akupun berusaha sabar dan menikmati kecantikan pemandangan Space Needle dari kejauhan di taman itu, akupun juga menikmati pemandangan beberapa couple yang melakukan wedding photo section. So sweet!!I really love it.

Tiba-tiba ada orang yang just passed by didepanku satu persatu memberiku mawar sesuai warnanya; sepuluh mawar putih, sepuluh mawar merah, dan enam mawar hitam. Disaat ku terbengong bengong, tiba tiba di cuaca summer time yang begitu indah datanglah Awan dengan gaya baju Polo kesukaannya, celana pendek, dan spatu butut favorit converse nya mendatangiku dengan tersenyum-senyum . Kali ini senyumnya kurasakan senyum serius, diapun memegang tanganku dan berkata:

“Mel, aku tau mawar ini mawar plastik bukan berarti aku gk mau beliin kamu yang asli tapi aku pengen mawar ini gak bakalan layu seperti perasaanku ke kamu yang kuharap gk bakalan layu karena aku…..Aku sayang banget ma kamu melebihi sahabat. 10 mawar putih, 10 mawar merah, 6 mawar hitam. Tau artinya?tanggal ini 10 Oktober 2006 dan sekarang jam 10”

Aku bener-bener melting, sepertinya dia juga sudah tahu jawabanku apa,karena dengan PD nya dia mengungkapkan rayuan nyebelin nya itu yang selalu menggodaku lucu dan membuatku tersenyum sampai akhirnya kuangguk kan kepalaku tanda aku menerimanya dihatiku. Dia pun mengubah nama panggilan “lo, gue” dengan panggilan “kamu, aku”. Kitapun berbincang-bincang, solat bersama di rerumputan taman, dan menghabiskan waktu duduk disana.

“Mel, seminggu lagi kamu bakalan balik. Aku yakin, kamu bakalan jadi orang hebat! Dan coba bayangin Mel ya, kamu bakal spt ayahmu, trus kamu bakalan nikah ma aku si Pilot sukses dari Amrik, keren gak tuh.” Awan memang menggebu-gebu ingin jadi Pilot, bahkan koleksi replika pesawatnya banyak menghiasi kamarnya. Sepanjang hari Awan pun dengan cerewetnya menguasai pembicaraan kita dengan gayanya yang tidak pernah membikin aku bosan dan sulit ku sangkal atau bilang tidak pada semua cerita, dan pertanyaannya.

“Eh Mel, yuk bikin perjanjian. Jadi gini ehem!Look, whatever will be happened, remember ok, whatever  will be happened kita komunikasi hanya melalui EMAIL!facebookku harus km block dan sebaliknya. Aku mungkin bakal lulus dan ke Master jg  4 tahun lagi. Empat tahun lagi disini, pukul 10, tanggal 10, bulan 10, 2010 jika hati km msh yakin ma aku, dan akupun demikian, aku lamar kamu disini!…..MELATIIIII aku SERIUS!!…Eits, tetapi sebelum satu bulan pertemuan kita, kita harus berhenti berkirim email.Kita lihat siapa yang hanya main-main dgn perasaan cinta suci ini….cieee!!Ok!,Oya, dan  kamu harus bawain aku spatu Converse utk mengganti buluknya spatu kesukaanku ini dan aku bakal bikin kejutan juga bwtmu. Ok!deal! U know babe, itu bakalan jadi catatan cinta romantis sepanjang cerita kasih kita. Jaman dulu malah org cm surat-suratan, kita skrg harus mengukir kenangan indah dgn cr lebh modern, remember only by email! Keren ndak tuh”

Pemikiran yang Bego!pikirku, bicaranya pun ndak putus-putusnya seperti kereta. Tetapi setelah kupikir dan kudengar-dengar rasanya lucu juga jika dicoba dilakukan. Akupun menghabiskan waktu itu di Kerry Park, menikmati pesona indahnya Space Neddle dari jauh hingga lampu-lampu gemerlapan itupun bercahaya tanda malam tiba. Hari itu benar-benar hari yang nggak akan kulupa. Sehingga akupun harus meninggalkannya kembali ke Indonesia.

Tugasku membantu ayah sangatlah sibuk dan padat, sehingga akupun jarang berkirim email.Walaupun demikian,kita pasti dalam seminggu selalu memberi kabar. Hari itu aku benar-benar was-was, sudah seminggu aku tak mendengar kabarnya. Tiba-tiba aku lgsg paranoid ketika melihat berita heboh di TV yang membahas lagi bahwa seminggu lalu ada kecelakaan pesawat dr Singapore ke Jakarta yang menewaskan beberapa penumpang Indonesia. Aku pun merasa hatiku tak tenang, tiba-tiba aku mengirim email 12 kali dalam malam itu menanyakan kabar Awan. Lima hari kemudian barulah aku mendapat balasannya. Syukur Alhamdulilah ternyata Awan menjawab emailku dan mengatakan maaf karena dia pergi ke luar State sehingga dia tidak sempat menjawab emailku. Kata-katanya sedikit kaku di email itu, tapi sudahlah yang penting kita tetap berkomunkiasi. Aku tetap melakukan perjanjian kami hingga waktunya tiba .Satu minggu sebelum 10-10-2010 aku meyakini bahwa Awan lah pilihanku, walau dia 5 tahun lbh muda dariku, tapi berada disampingnya slalu membuatku tidak merasa minder karena aku yakin dia mencintaiku apa adanya juga.

Tibalah aku di Seattle, aku pun bersiap siap akan bertemu dengan Awan. Sepatu Converse terbarupun sudah terbungkus dengan indah sebagai pengganti sepatu buluknya itu. Akupun tersenyum bahagia sendiri membayangkan kejutan-kejutan apa lagi  yang akan dia tunjukkan padaku.

Hingga tanggal itupun tiba, akupun masih ingat semua kata-katanya. 10-10-2010, pukul 10 aku berjalan penuh perasaan berdebar sambil membawa bunga mawar plastiknya. Sepuluh mawar putih, sepuluh mawar merah, enam mawar hitam. Akupun masih melihat kecantikan Kerry Park dengan bahagianya, melihat pemandangan space needle dari jauh beserta gedung-gedung kecil dibawahnya, melihat para pengantin itu melakukan wedding photo section, melihat pasangan nenek dan kakek saling berpelukan, melihat anak kecil berlari lari dengan anjingnya, hingga akupun tersadar sudah 4 jam aku menunggunya. Hari itu tidak seperti summer sewaktu aku datang 4 tahun lalu, karena Seattle terkenal kota hujan, hari itupun pukul 1 siang awan mulai mendung. Akupun berfikir akan turun hujan, dan benar pukul 2 hujan rintik-rintik pun turun. Aku tetap menunggu Awan datang, mungkin dia telat karena ada acara, atau karena hujan. Aku hanya mencoba berfikir positif. Jam ditanganpun menunjukkan pukul 3, tiba-tiba ada seseorang dibelakangku memegang pundakku.

“Loh, Deni! Awan mana Den?”

“Hi Mel,hmmm…..Awan….Awan…..”

“Kenapa Den?.” Tiba-tiba dia meyakinkanku untuk mengikutinya masuk kedalam mobil dan berjanji aku tidak mengajukan banyak pertanyaan. Akupun tidak terima dengan penjelasannya yang terlalu ditutup-tutupi. Deni menginginkanku agar tidak memikirkan dan menjauhi Awan untuk selamanya. Aku shock dan marah!akupun memaksanya mengatakan yang sebenarnya. Debat sengitpun terjadi antara aku dan Deni, hingga dia memberhentikan mobilnya di suatu Islamic cultural event.

Begitu terkejutnya aku saat Deni menunjuk jarinya padaku dari kejauhan!AWAN!!!Deni pun menarik tanganku dan meyakinkanku untuk tidak mendekati Awan. Aku menangis sejadi-jadinya.

“AWAAN!!!Deni….tidak Den, kenapa Den kenapa!!!tolong Den ijinkan aku mendekatinya”

“Maafkan aku Mel, tapi ini pesan dari Awan.” Aku melihat Awan diatas kursi roda, tubuhnya kurus, sangat kurus tapi senyumnya masih mengembang tulus sambil memberikan brosur di Islamic cultural event itu kepada pengunjung yang lewat.  Akupun melihat dia masih ceria, masih membuat lawakan kecil sehingga dari kejauhan aku melihat para pengunjung melewatinya sambil tertawa kecil sembari Awan sepertinya membikin joke-joke kecil. Dan, akupun melihat……kaki Awan tinggal satu!!!!!

“Kalau kamu ingat beberapa tahun lalu ada kecelakaan pesawat di berita dari Singapore- Jakarta. Awan berada dalam pesawat itu bersama keluarganya. Dia berkunjung ke Jakarta karena kakeknya meninggal, dan ingin sekalian menemuimu. Tetapi nasib naas menimpanya. Ayah dan adik kesayangannya meninggal, Ibunya sekarang mengalami shock berat dan amnesia, sedang Awan harus kehilangan kakinya dan dy mengalami gangguan pernafasan kronis. Mungkin kamu bertanya mengapa dia tidak memberitahumu. Hal itu dikarenakan Awan shock berat Mel, kasihan Awan, dia tidak ingin mengecewakanmu. Apalagi kamu adalah anak orang ternama didaerahmu, kamu juga cantik, memiliki kedudukan dan nama. Awan titip pesan kepadaku supaya menjawab semua email-emailmu, aku belajar logat dan cara dia menulis Mel. Tiap aku membalas emailmu aku merasa sedih. Awan bilang, ingin melupakanmu dan menjalani pilihan hidupnya. Sejak itu dia tidak pernah menyebut-nyebut tentangmu. Semua tentang dia, akulah yang menggantikannya. Aku tahu kamu pasti marah padaku, tapi aku tidak memiliki pilihan lain.Maafkan aku Mel.”

Aku menangis sejadi-jadinya, aku meminta Deni mengembalikanku ke Kerry Park. Malam itu, di Kerry Park hujan rintik dan awan gelap menyelimuti suasana indahnya taman itu dan hatiku. Kutaruh kotak sepatu converse nya, beserta mawar darinya di kursi tempat kubiasa menunggunya. Deni menungguku di belakangku.

“Den, sekarang aku tahu arti tanda mawar hitam ini. Enam mawar hitam,  yaitu kesedihan…4 tahun kemudian ditahun 2010 dimana aku mengharap kebahagiaan kita, tak akan lagi kutemukan. Sepatu converse ini tak akan dipakainya, awan kelam ini menutup Awanku yang selalu cerah. Langitpun menangis Den….”Aku menangis sakiiit,sangat sakit hati ini.

“Kau tahu Melati, Awan orang yang kuat. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Dan satu lagi yang patut kamu pelajari dari Awan, rasa ikhlasnya pada ALLAH dan keceriaannya pada sekitarnya. Dia ikhlas kehilangan segalanya Mel, keluarga, impiannya, harapannya, tetapi dia tetap optimis dan bangkit, kamu bisa lihat dari senyumnya kan?Iklhaslah Mel, ikhlaskan semuanya. Hargai keputusan Awan Mel, ini sudah keputusan hidupnya. Dia berusaha keras melupakanmu Mel, tolong hargai perjuangannya. Relakan pada ALLAH sang pemilik cinta sejati dan hati.”

Akupun tersenyum tenang mendengar perkataan Deni, aku masih mencintai Awan, dan jika dia masih mengharapkanku, apapun kondisinya aku tetap menerimanya. Aku akan mencoba mengikhlaskan segalanya pada ALLAH, belajar dari semua yang dimiliki Awan, menghargai keputusan Awan. Terima kasih Awan….terima kasih…kau tetap akan menjadi Awan putih yang cerah dihatiku. Akupun meninggalkan taman itu tepat pukul 10 malam, tanggal 10 bulan oktober, 2010.

 =======================================================

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’aam: 162-163)”

(Cerita Cinta Islamiku)

Iklan

3 Komentar (+add yours?)

  1. ya2kzzz
    Feb 11, 2012 @ 03:49:40

    ini juga favoritku.. 😀

    Balas

  2. soccerbit.com
    Mar 04, 2012 @ 17:45:03

    Asik om ceritanya

    Today’s on http://soccerbit.com/
    – Galeri Nike CTR 360 Single Color
    – Sejarah Sepatu Sepakbola
    – Dari Dekat: Adidas Adipure 11Pro
    – Lebih Dekat Dengan Lionel Messi
    – Spy Shot Nike Mercurial Vapor VIII Bersama Marco
    Boriello

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: